Sabtu, 22 Agustus 2009

Kronologi Perang Khondak

PERANG KHONDAK
dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
11. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.

A. KONDISI SECARA UMUM
1. Kaum Muslimin
Setelah perang Uhud, kaum muslimin berhasil menertibkan kembali tatanan pemerintahan sehingga kendali kekuasaan di Madinah berada penuh di tangan dan mereka pun bisa membebaskan diri dari rongrongan orang-orang Yahudi bani Nadhir. Maka dengan demikian kedudukan mereka di Madinah menjadi kuat dan mereka pun benar-benar menjadi Qoidah Aminah bagi Islam dan kaum muslimin. Mereka juga berhasil menggoyahkan moril kaum musyrikin Quraisy dan kabilah-kabilah yang bernafsu melakukan penyerangan ke Madinah.
Dalam rentang waktu ini, mereka berhasil mengembalikan prestise dan reputasai mereka, sehingga jadilah kekuatan mereka di takuti oleh pihak lawan, di dalam dan luar negeri Madinah dalam kadar yang sama.

2. Kaum Musyrikin Quaisy dan Kaum Yahudi.
Kaum musyrikin Quraisy belum berhasil dalam menghadapai kaum muslimin sejak perang Badar Sughra, karena menurut perhitungan mereka, kekuatan kaum muslimin terlalu besar untuk dapat dikalahkan dengan kekuatan mereka saja.
Demikian juga kabilah-kabilah yang bernafsu melakukan penyerangan ke Madinah tidak pernah berhasil melaksanakan apa-apa yang menjadi ambisinya, sebab mereka lebih dahulu diserbu oleh kaum muslimin secara terpisah di negri mereka sendiri dan akhirnya mereka bisa ditaklukan secara berturut-turut.
Adapun kaum Yahudi sendiri, kondisi mereka terlalu lemah untuk berfikir melakukan penyerangan ke Madinah secara sendirian terhadap kaum muslimin, untuk itu mereka selalu menuggu-nunggu kesempatan menikam dari dalam.
Untuk bisa mengalahkan kaum muslimin, mereka harus menggabungkan kakuatan kaum musyrikin Quaraisy, kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab lain dalam satu aliansi kekuatan. Oleh karena kekuatan kaum muslimin sudah mencapai taraf “Sulit dikalahkan” jika pihak lawan-lawan mereka tidak menghimpun dan menyatukan segenap kekuatan material dan spiritual mereka. Dan benarlah, beberapa orang Yahuni bani Nadhir yang terusir itu melakukan upaya penyatuan dan penggabungan antara kekuatan kaum musyrikin dan kaum Yahudi yang bermukim di Madinah. Dan mereka berhasil menghimpun kekuatan yang sangat besar, memiliki keunggulan sangat jauh dan mampu menghabisi agama baru yang sedang berkembang itu.


B. Kekuatan Kedua Pihak
1 Kaum Muslimin berjumlah 3000 personil di bawah pimpinan Rasulullah .
2 Kaum musyrikin berjumlah 10.000 orang personil, tidak termasuk kekuatan yang siap mendukung di belakang mereka dari kaum Yahudi bani Quraizhah. Yang jumlah tersebuat terdiri dari 4000 orang dari kaum musyrikin Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah dan 6000 orang lainya dari gabungan beberapa suku yang terdiri dari Bani Sulaim yang dipimpin oleh sufyan bin Abdu Syamsy sekutu Harb bin Umayyah , Bani Asad dipimpin oleh Thalhah bin Khuailid Al-Asadi, Bani Fizarah dipimpin oleh Uyainah bin Hishn, Bani Asyja’ yang dipimpin Mas’ud bin Rukhailah dan Ghathafan yang dipimpin oleh ‘Umayyah bin Hishan dan Harits bin Auf.

C. Tujuan Masing-Masing Pihak
1 Kaum muslimin ingin membela dan mempertahankan Islam.
2 Kaum musyrikin ingin menumpas kaum muslimin dan merampas harta benta dan anak-anak keturunan mereka.

D. Waktu Terjadinya Perang Khondak
Terjadi pada bulan Syawal pada tahun ke-5 Hijriyah, sementara pengepungan terjadi selama 1 bulan.

E. Sebelum Pecahnya Perang
1 Kaum muslimin.
Kaum muslimin memutuskan untuk bertahan di kota Madinah dan menggali parit mengelilingi sisi utara wilayah Madinah, persisnya antara Hurrah (tanah tak berpasir) Madinah dengan gunug Sila’ , mengingat kawasan ini adalah satu-satunya kawasan yang terbuka sementara itu sisi-sisi yang lain dikelilingi oleh kebun-kebun yang lebat serta rintangan-rintangan alami yang lain. Dengan kondisi ini, kemungkinan kecil musuh melancarkan penyerangan dari tepi-tepi Madinah terkecuali dari sisi utara. Maka dari itu Salman Al-Farisi mengusulkan penggalian parit di kawasan tersebut, perlu diketahui bahwa penggalian parit untuk pertahanan memang belum di kenal oleh bangsa Arab sebelumnya.
Nabi  membagi area penggalian parit itu kepada para sahabatnya di mana setiap 10 orang di antara mereka memikul tugas penggalian sepanjang 40 hasta . Beliau juga ikut menggali seperti yang lain, dan para sahabat juga meminta bantuannya ketika menemuai kesulitan dengan adanya batu besar yang keras, maka beliau sendiri yang memcahkannya.
2 Kaum muslimin bermarkas di kaki bukit sila’ dengan posisi membelakanginya. Rasulullah  mengumpulkan kaum wanita dan anak-anak di rumah-rumah yang kuat bangunannya di kawasan yang aman di dalam kota Madinah untuk melindungi keselamatan mereka.
3 Setelah menyelesaikan parit, kaum muslimin menempatkan diri pada posisi-posisi di belakang parit serta memanfaatkan kekokohan bukit Sila’ untuk melindungi bagian belakang dan sayap kiri dari manuver pasukan ahzab yang hedak memotong jalur kembali mereka ke Madinah dan hendak memukul mereka dari bagian belakang serta mengepung mereka.
F. Kaum Musyrikin dan Yahudi
1 Sekelompok orang-orang Yahudi pergi mendatangi kaum musyrikin Quraisy, di antaranya Salman bin Abul Huqaiq dan Huyay bin Akhthab. Mereka memprovokasi kaum musyrikin Quraisy untuk memerangi Nabi , dan mereka berjanji akan berada di pihak kaum musyrikin dalam peperangan tersebut. Setelah berhasil meyakinkan kaum musyrikin Quraisy untuk memerangi Nabi , maka mereka pergi mendatangi kabilah Ghathafan dan kabilah-kabilah lain serta mengajak mereka untuk maksud yang sama.
2 Tatkala Quraisy, Ghathafan dan kabilah-kabilah lain tadi sampai di daerah sekitar Madinah, Huyay bin Akhtab berhasil mempengaruhi orang-orang Yahudi dari Bani Quraidzhah sehingga mereka menghianati perjanjiannya dengan kaum muslimin dan bergabung dengan pasukan Ahzab.
3 Posisi-posisi perang pasukan Ahzab adalah di daerah pinggiran Madinah (sebelah utara) sebagai berikut:
 Quraisy mengambil posisi di Majma’ As-Yal dan Daumah antara Juraf dan Zaghabah.
 Ghatafan dan kabilah-kabilah dari Nejed mengabil posisi di Dzanabi Uqma ke sebelah samping Uhud.
 Bani Quraizhah di benteng-benteng perlindungan mereka di pinggiran Madinah.

G. Jalannya peperangan.
1 Posisi kaum muslimin sulit sekali, khususnya setelah Bani Quraizhah bergabung ke pihak pasukan Ahzab. Sewaktu-waktu sangat memungkinkan bagi orang-orang Yahudi bani Quraizhah menyusup secara sembunyi-sembunyi ke dalam Madinah dan melakukan penyerangan terhadap kaum wanita dan anak-anak. Karena mereka sangat faham betul akan liku-liku jalan dan lorong-loronga Madinah, karena mereka termasauk warga Madinah, kalau sampai ini terjadi, ini sangat mempengaruhi moril kaum muslimin yang sedang bertahan dengan gigih di medan peperangan, sehingga mereka menjadi tidak tentram memikirkan nasib keluarga, anak-anak dan harta benda mereka.
Demikian juga kemungkinan mereka memblokir rute kembali kaum muslimin ke dalam kota Madinah, sehingga akan terbukalah kesempatan bagi pasukan Ahzab menyerbu parit pertahanan tanpa ada pertahanan yang berarti. Sehingga pelanggaran perjanjian yang di lakukan oleh Bani Quraizhah merupakan tikaman yang sangat menggoncangkan kaum muslimin.
2 Orang-orang Yahudi bani Quraizhah mengirim salah seorang di antara mereka untuk menyelinap diam-diam ke dalam kota Madinah, dan dia berhasil menyelinap ke rumah-rumah yang menjadi tempat penampungan kaum wanita dan anak-anak. Orang Yahudi tersebut berusaha memperoleh informasi-informasi mengenai tempat-tempat para wanita dan anak-anak ditampung. Hal tersebut akan memudahkan jalan bagi kaumnya untuk melakukan penyerangan secara mendadak terhadap mereka, setelah memastikan tidak adanya perlindungan yang cukup memadai bagi mereka. Sehingga akan memaksa kaum muslimin untuk mundur dari posisinya semula guna menolong keluarga mereka serta menyelamatkan harta benda mereka.
Akan tetapi, hal ini dapat di patahkan oleh seorang wanita yang bernama shafiyah binti Abdul Muthallib, bibi Nabi . Sehinga si Yahudi tidak dapat kembali ke kaumnya Karena mati terbunuh dengan sopotong tiang kayu yang dihantamkan ke bagian badannya. Dan terbunuhnya Yahudi tersebut dapat menyelamatkan kaum muslimin dari ancaman bahaya yang hendak menimpa, sebab kejadian tersebut menjadikan orang-orang Yahudi berpifikir bahwa di dalam Madinah terdapat penjaga-penjaga yang kuat yang tidak mudah bagi mereka menembus penjagaan tersebut. Oleh karena itu mereka tetap sembunyi di benteng pertahanan mereka dan tidak melakukan penyerangan.
3 Sebuah satuan prajurit berkuda Quraisy, di antaranya terdapat Amru bin Abdu Wudd dan Ikrimah bin Abu Jahal, bergerak di depan Bani Kinanah. Lalu mengobarkan semangat mereka untuk berperang. Ketika satuan prajurit berkuda itu sampai di parit pertahanan yang di buat kaum muslimin, mereka mencari area yang paling pendek jaraknya, lau mereka mencoba menyeberanginya dengan kuda-kuda mereka. Melihat kedatangan mereka yang hendak masuk, maka keluarlah Ali bin Abi Thalib  bersama beberapa orang sahabat. Mereka langsung memblokir celah tersebut untuk mencegah pasukan balik kembali dan menghalangi datangnya bala bantuan dari pasukan Ahzab yang akan membantu mereka. Ali bin Abu Thalib melakukan perang tanding denga Amru bin Abdu Wudd dan berhasil membunuhnya, demikian juga sahabat yang lain berhasil membunuh dua orang musyrik dan satu prajurit berkuda tersebut. Karena berhasil dipukul oleh kaum muslimin maka sisa prajurit berkuda Quraiy yang lain mundur kembali ke markas mereka.
4 Datang lagi sekelompok pasukan musyrikin melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin mengarah ke rumah Nabi . Segera kaum muslimin menyongsong serangan mereka yang sepanjang hari sampai petang, ketika waktu shalat telah Ashar tiba, kaum muslimin berada dalam keadaan genting. Karena musuh berhasil mendekati tempat tinggal Nabi , sehingga mereka tidak bisa melaksanakan shalat Ashar, namum petang itu juga mereka berhasil memukul mundur pasukan musyrikin tadi.
5 Rasulullah  berupaya agar sebagian pasukan Ahzab menarik mundur dari Madinah dengan jalan melakukan perundingan dengan mereka. Dalam perundingan tersebut beliau menawarkan kompensasi (ganti rugi) pemberian sepertiga hasil buah-buahan Madinah. Perundingan antara beliau dengan pimpinan Ghathafan ini hampir saja mencapai kata sepakat. Akan tetapi para pemuka golongan Aus dan Khazraj tidak menyetujuinya. Yang akhirnya Rasulullah  menyetujui keputusan para sahabat.
6 Tinggalnya kabilah-kabilah Arab itu dalam waktu yang cukup lama di sekitar Madinah mempengaruhi semangat mereka, apalagi waktu itu bertepatan dengan musim dingin. Mereka tidak sabar terus-menerur melakukan pengepungan dan tidak melakukan peperangan yang menyebabkan mereka dongkol dan gusar karena terlalu lama menunggu tanpa membuahkan hasil.
7 Nu’aim bin Mas’ud dari Ghathafan datang menemuai Nabi  dan memberitahu pada Beliau bahwa dia telah masuk Islam dan keislamannya tidak diketahui oleh kaumnya. Setelah mendengar pengakuan Nu’aim, Nabi  berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau hanya seorang diri saja, untuk itu cerai-beraikan kesatuan mereka semampu kamu untuk membantu kami, karena sesungguhnya perang itu tipu daya.”
Nu’aim bin Mas’ud pergi mendatangi Bani Quraizhah, dia adalah kawan mereka di masa Jahiliah. Nu’aim berkata kepada mereka, “Kalian sudah mengerti akan persahabatanku kepada kalian, sekarang ini kalian membantu pihak Quraisy dan Ghathafan untuk memerangi Muhammad. Posisi mereka itu tidak seperti kalian, negeri yang diserang itu adalah negeri kalian, disitu anak-anak, harta benda dan istri-istri kalian berada, sedang kalian tidak dapat memindahkannya. Jika Quraisy dan Ghathafan memperoleh peluang untuk menang, maka mereka akan mendapatkan ghanima, sementara jika mereka kalah, mereka akan kembali ke negerinya dan meninggalkan kalian berurusan sendiri dengan Muhammad dan pasti kalian tidak akan mampu menghadapinya. Oleh karena itu janganlah kalian ikut berperang sampai kalian mendapatkan satu jaminan dari pembesar-pembesar mereka, baru setelah itu kalian boleh memerangi Muhammad.”
Dan orang-orang bani Quraizhah mengatakan, “Engkau teleh memberikan nasihat pada kami, dan bukanlah kamu orang yang bercacat yang patut kami curigai.”
Setelah selesai menemui Bani Quraizhah, Nu’aim pergi mendatangi Quraisy dan mengatakan kepada mereka: “Aku mendapatka informasi bahwa Quraizhah merasa menyesal bekerja sama dengan kalian, mereka mengirim utusan kepada Muahammad untuk menyampaikan tawaran: “Akankah kamu menerima kami andai kami menangkap beberapa pembesar Quraisy dan Ghathafan untuk kami serahkan kepadamu agar kamu penggal leher mereka, kemudian kami akan bersamamu menghadapi mereka yang masih tersisa.” Maka Muhammad menjawab: “Ya tentu”. Maka dari itu bani Quraizhah meminta jaminan dari kalian dengan beberapa orang di antara kalian. Maka jangan kalian berikan satu orang pun kepada mereka”.
Setelah mendatangi Quraisy, dia mendatangi Ghathafan dan mengatakan kepada mereka: “Kalian adalah keluargaku dan sanak familiku. Lalu ia mengatakan kepada mereka sama seperti apa yang dikatakannya kepada orang Quraisy. Dan menyuruh mereka agar berhati-hati!.
Kemudian Abu Sufyan dan para pemimpin Ghathafan mengirimkan Ikrimah bin Abu Jahal beserta sejumlah orang Quraisy dan Ghathafan untuk menemui Quraizhah pada malam Sabtu. Mereka meminta kepada Quraizhah agar bersiap-siap melakukan penyerangan pada Sabtu siang. Akan tetapi Quraizhah mengemukakan alasan bahwa mereka dilarang berperanga pada hari Sabtu, kemudian mereka meminta jaminan kepada Quraisy dan Ghathafan sebelum serangan apapun dilancarkan. Mndengar permintaan mereka, Quraisy dan Ghathafan berkata: “Benar kata Nu’aim!...”
Tatkalah permintaan Quraidzah yang menuntut jaminan dari Quraisy dan Ghathafan ditolak, maka mereka juga berkata dalam hati: “Benar apa kata Nu’aim!…” maka bercerai-berailah hati pasukan Ahzab dan lenyap pula rasa saling percaya di antara mereka.
8 Rasulullah  mengutus Hudzaifah Ibnu Yaman pada malam hari untuk menyelidiki keadaan pasukan Ahzab. Di markas musuh, Hudzaifah melihat Quraisy pergi meninggalkan medan peperangan menuju Makkah. Begitu Ghathafan tahu Quraisy meninggalkan tempatnya tanpa sepengetahuan mereka, maka merekapun bersama beberapa kabilah-kabilah yang lain kembali ke negerinya masing-masing.
Dengan pandangannya yang tajam, tahulah Rasulullah  bahwa kaum musyrikin telah kehilangan kesempatan yang sangat berharga, padahal kesempatan seperti itu tak mungkin dapat mereka raih kembali.

H. Kerugian Yang Diderita Kedua Belah Pihak
1 Kaum muslimin 6 orang syahid, mereka adalah Sa’ad bin Mu’adz, Anas bin Aus bin ‘Atik dari Bani Abdul Asyhali, Abdullah bin Sahl Al-Asyhal, Tsa’labah bin Ghanamah bin Adi, Ka’ab bin Zaid dari Bani Dinar dan Thufail bin Nu’man
2 Kaum musyrikin 3 orang tewas.

I. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pasukan Ahzab
1. Kepemimpinan yang tidak tunggal.
2. Surpraise dengan parit, strategi baru yang belum pernah mereka kenal.
3. Cuaca dingin yang terjadi pada saat perang.
4. Tidak ada rasa saling percaya di antara mereka.
5. Tidak adanya kesabaran.

J. Mukjizat-Mukjizat Perang Ahzab
a) Daging seekor kambing yang di hidangkan oleh Jabir bin Abdillah dapat memenuhi kebutuhan seluruh pasukan yang berjumlah 1000 orang. Bahkan masih tersisa satu panci.
b) Kurmah yang di bawa oleh saudara perempuan Nu’man bin Basyir yang dapat dinikmati seluruh penggali pasrit dan masih tersisa.
c) Tanah yang keras dapat menjadi lunak bagaikan pasir.
d) Batu yang keras yang sebenarnya sulit untuk dipecahkan dengan cangkul akhirnya dapat dipecahkan oleh Rasulullah  yang hal itu menjajadi pertanda akan hancurnya kerajaan Syam, kerajaan Persia dan kerajaan Yaman.
Setelah kaum muslimin memenangkan peperangan Ahzab maka kaum muslimin telah berpindah dari fase defensif ke fase ofensif . Oleh karena itu Rasulullah  mengatakan kepada para sahabatnya setelah pasukan Ahzab mundur dari peperangan: “Sekarang, kitalah yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar