MENGINGAT ALLAH DI Kala SUKA DAN DUKA
Oleh : Ahmad Khoiruddin
I. Muqoddimah
Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah atas segala nikmat dan hidayahnya kepada kita, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah para sahabat, keluaraga, tabi’in, tabi’u tabi’in dan seluruh umat manusia yang senantiasa meniti jalan hidupnya.
II. Kenalilah Allah
Rosulullah bersabda dalam sebuah hadits yang panjang :
“Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu sedang susah.” (HR.Ahmad, Hakim, dan Al-Baihaqi)
Pesan ini di sampaikan oleh seorang Nabi yang paling mengetahui tentang keagungan dan kesempurnaan Tuhan manusia, dan orang yang paling benar dalam dalam wasiat-wasiatnya kepada manusia. Hadits ini merupakan petikan dari sebuah hadits yang panjang yang di kemukakan saat Ibnu Abbas duduk di belakang Nabi yang mengendarai keledainya.
Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas yang saat itu menjelang usia remaja, maka Rosulullah menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mendidiknya, beliau bersabda :
« يَا غُلاَمُ إِنِّى مُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَلْتَسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ »
Hai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan berikut : Peliharalah Allah, niscaya Dia akan memeliharamu, peliharalah Allah niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu,Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu susah, apa bila kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan apa bila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepda Allah.
Ketahuilah, bahwa seandainya suatu umat sepakat untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah di taqdirkan oleh Allah atas dirimu. Dan seandainya mereka sepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan bahaya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah di taqdirkan oleh Allah atas dirimu, pena telah di angkat dan lembaran telah di angkat. (HR. Tirmidzi )
Dalam riwayat lain “Hendaklah engkau mengenal Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengenalmu di waktu sempit ( susah )” (HR. Ahmad, Hakim, dan Baihaqi)
Alangkah indahnya Hadits ini, alangkah besarnya wasiat ini, Alangkah agungnya pembicaraan ini. Rosulullah mengajarkan kepada kita bagaimana kita mengenal Allah saat senang agar Allah mengenal kitab saat kita sedang susah. Ini merupakan sunnatullah pada makhluk-Nya, yaitu bahwa barang siapa yang mengenal Allah pada waktu senang, Allah akan mengenalnya pada waktu ia sedang susah.
Hal inilah yang di dambakan oleh orang-orang shalih, baik yang kaya atau yang miskin. Para anbiya’ dan orang-orang yang berada di bawah mereka tingkatannya. Yaitu senantiasa memohon agar Allah memelihara mereka saat mereka dalam kesulitan.
Allah telah menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa amal shalih itu membawa manfaat dalam keadaan susah karena amal bisa mempengaruhi pemiliknya, jika ia beramal baik maka ia akan mendapatkan kebaikan, dan begitu pula sebaliknya.
III. Mereka yang Mengingat Allah di Kala Susah
1. Nabi Ibrahim u
Siapakah yang tidak mengenal kekasih Allah Ibrahim u yang senantiasa mengharap rahmat Allah . ia lupa akan jerih-payah dan pengorbanannya dan lupa kepada amal-amal shalih yang telah di lakukannya dan menganggap dirinya sebagai seorang yang banyak melakukan dosa, dalam Al-Qur’an tertera perkataannya :
“Dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (QS. Asy-Syu’ara’ 82 )
Ibrahim menjalani hidupnya dengan senang hati seraya memelihara Allah tetap dalam kalbunya saat-saat manusia berpaling dari-Nya. Dia senantiasa menghadapkan dirinya kepada Allah dengan mengesakan-Nya, cenderung pada agama yang hak lagi berserah diri, dan dia sama sekali bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Manusia sujud menyembah berhala, sedang Ibrahim sujud menyembah Allah . Manusia bergantung pada berhala-berhala, sedang Ibrahim hanya bergantung pada Allah .
Mereka menyalakan api besar untuk membakar Ibrahim setelah dia masuk menemui Raja Namrudz yang pembohong lagi pendusta. Akan tetapi Allah menyelamatkannya. Allah berfirman :
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan" . Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS. Al-Baqoroh : 258)
Yang menciptakan adalah Allah dan Dia pula yang memberi rizki dan mengatur segalanya. Ibrahim mengatakan : “...Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan…”.
Tiada yang dapat menghidupkan dan mematikan, selain hanya Allah, tiada yang dapat mengeahui ghoib kecuali hanya Allah. Akan tetapi si pendusta itu mengatakan dalam jawabannya “…Saya pun dapat mematikan dan menghidupkan..” Ibrahim bertanya “Bagaimana caranya ? Raja pendusta itu megeluarkan dua orang tahanan, lalu ia membebaskan salah seorang darinya dan mengatakan : “Orang ini saya hidupkan” dan ia membunuh yang lainnya seraya berkata : “Dan yang ini aku matikan”
Ibrahim tidak menyanggah kebodohan ini, karena dia mengetahui bahwa hujjah berikutnya yang akan di lemparkan ke wajah lawannya adalah lebih keras dari pada yang pertama, Ibrahim u mengatakan : "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Mereka mengumpulkan kayu bakar untuk membakar kekasih Allah, selanjutnya mereka meletakkan Ibrahim pada ketapel raksasa di bawahnya api yang berkobar tanpa teman tanpa sejawat, tanpa keluarga, dan tanpa penolong, Kecuali hanya Allah .
Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la'nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (QS. Al-Mu’min : 51-52)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa firman-Nya :
"…Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung". (QS.Ali Imran : 173 )
Kalimat inilah yang di ucapkan oleh kekasih Allah Ibrahim u ketika beliau di lemparkan ke dalam api besar, maka Allah menyelamatkannya. Kalimat ini pula yang di ucapkan oleh Nabi Muhammad ketika di katakan kepadanya :
"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung". Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. Ali Imran : 173-174)
Maka apakah para pemuda dan pemudi kita di masa ini mengucapkan : “Hasbunallah wa ni’mal wakil” ketika mereka di timpa oleh berbagai macam kesusahan dan kesulitan, berbagai macam fitnah, dan kejadian mewabah di kalangan mereka .
Semua ini di maksudkan agar mereka kembali dengan membawa nikmat Allah dan karunia-Nya, sedang mereka tidak tersentuh oleh bencana apa pun.
Ibrahim jatuh ke dalam kobaran api, akan tetapi atas kekuasan Allah api itu menjadi dingin dan membawa keselamatan berkat karunia Allah, karena ia telah merealisasikan ajaran “Kenalilah Allah di kala engkau senang, niscaya Dia akan mengenalmu di kala engkau sedang susah”
2. Nabi musa u dan istri Fir’aun
Musa di lahirkan pada masa Fir’aun pada saat itu sedang marak pembunuhan anak-anak lelaki, lalu di manakah ibunya menyembunyikannya, sehingga Nabi Musa berhasil di selamatkan.
Semua pegangan yang di pakai oleh ibunya telah terputus, kecuali tali Allah. Ia pun memasukkan anak itu ke dalam peti kemudian melemparkannya ke dalam sungai sebagai pelaksanaan perintah Allah , akhirnya peti itu mengalir ke hilir menuju kebun-kebun yang ada di kedua tepi sungai Nil. Sehingga permaisuri dan budak-budak perempuan Fir’aun pun memungutnya dan mereka menyerahkan ke hadapan Fir’aun yang hampir saja membunuhnya kalaulah tidak di cegah oleh istrinya yang bernama Asiyah.
Ahlul ilmi mengatakan bahwa Fir’aun menyiksa istrinya ketika Fir’aun memaksanya untuk mengakui bahwa dirinya adalah tuhan yang harus di sembahnya. Asiyah pun mengingkarinya dan menolak untuk tunduk pada perintah Fir’aun, bahkan dia mengucapkan bahwa tiada tuhan selain Allah .
Fir’aun memaku kedua tangan istrinya ke tanah, tetapi dia tidak merasa sakit sedikit pun. Fir’aun meletakkannya di bawah terik matahari, maka para malaikat datang menaungiya dengan sayap-sayap mereka, dengan tersenyum ia melihat rumahnya di surga. Ini karena ia merealisasikan ajaran :
“Kenalilah Allah di kala engkau senang, niscaya Dia akan mengenalmu di kala engkau sedang susah”
Maka ketika Nabi Musa dewasa ia memulai da’wahnya dengan berbagai tantangan dan cobaan, ia senantiasa mengingat Allah dan memujinya, ketika para ahli sihir yang di kumpulkan oleh Fir’aun untuk melawan nabi Musa mulai menunjukkan kesombongannya, Allah memberikan pertolongan kepada Musa dengan memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkatnya, maka berubahlah tongkat itu menjadi ular yang besar dan memakan satu persatu ular kecil jelmaan tongkat para ahli sihir, maka ketika itu sebagian mereka beriman dan sebagian lain mengingkarinya.
Tidak menerima kenyataan itu Fir’aun murka dan berusaha membunuh nabi Musa u sehingga sampailah nabi Musa di tepi lautan, maka Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke lautan, seketika itu terbelahlah lautan dan dengan segera nabi Musa dan pengikutnya berlari menyelamatkan diri, ketika sampai di ujung lautan Musa berkata kepada pengikutnya :
•
"Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy-Syu’araa : 62)
Ketika Fir’aun serta bala tentara di tengah lautan, Allah menyatukan kembali Lautan itu maka tenggelamlah Fir’aun yang sombong beserta bala tentaranya. Sekali lagi karena ia senantiasa mengingat Allah di saat senang, maka Allah mengingatnya di saat susah.
3. Nabi Yunus u
Kita ingat Nabi Yunus yang di selamatkan Allah ketika ia di dalam perut ikan besar tanpa teman dengan rasa lapar dalam keadaan gelap. Ketika itu ia berdo’a sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an :
"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya’ : 87)
Allah punmenyelamatkan Yunus dari kesusahan, kesulitan dan kesengsaraan. Karena dia senantiasa mengenal Allah saat senangnya. Allah berfirman :
“Maka kalau Sekiranya Dia tidak Termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. (QS As-Shaffat : 143-144 )
4. Nabi Yusuf u
Ketika nabi Yusuf di lemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, yusuf senantiasa bertasbih, mengingat Allah sedangkan waktu itu ia masaih kecil.
Ketika di bawa pergi ke negara mesir, di sana ia di goda oleh istri Al-Aziz, akan tetapi ia tidak terjerat oleh bujuk rayunya, dan berkata
"Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung”. (QS. Yusuf : 24)
Sesungguhnya Yusuf senanatiasa mengingat Allah pada waktu senangnya, maka Allah mengingatnya di saat ia di landa fitnah dan kesulitan.
Kisah di atas adalah sebagian kisah Nabi yang senantiasa mengingat Allah di saat suka maupun duka, masih banyak kisah para wali-wali Allah, orang-orang shalih yang mereka tidak pernah lalai dari mengingat Allah baik di kala senang atau pun susah. Ini merupakan sunnatullah yang tidak akan berubah dan tidak akan di ganti selamanya, yaitu bahwa barang siapa yang mengenal Allah pada waktu sukanya, Allah akan mengenalnya pada waktu susahnya .
IV. Aplikasi Mengingat Allah di Kala senang.
Berangkat dari titik ini, kita kembali merenungkan dalam waktu yang lama, yaitu sabda Nabi yang berbunyi : “Kenalilah Allah di kala engkau senang, niscaya Dia akan mengenalmu di kala engkau sedang susah”
Mengenal Allah ada waktu sehat artinya ialah kita menggunakan waktu kita untuk melakukan hal-hal yang di ridhoi oleh Allah . Mengenal Allah pada waktu luang ialah mengunakannya untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, beribadah, mengerjakan amal shalih, dari pada menggunakan waktu-waktu yang tidak berguna.
Sesungguhnya ini adalah pesan nabi kita dan sesungguhnya ini adalah pelajaran yang kekal yang akan kita tunjukan kepada diri kita sendiri, kemudian kepada saudara-saudara kitayang muslim, agar mereka senantiasa memelihara hukum-hukum Allah, menghormati kesucian Allah, dan mengagungkan syi’ar-syi’ar-Nya :
Maka Allah adalah Sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara Para Penyanyang.( QS. Yusuf ; 64 )
Sesungguhnya ahli iman telah merasakan bahwa tiada kesenangan bagi mereka dan tiada kebahagian, kecuali dalam bertaqwa kepada Allah . Demi Allah sesungguhnya mereka mendiami gedung-gedung yang mewah-mewah, membangun apartemen-apartemen, mengendarai kendaraan mewah, tetapi manakala mereka lupa kepada Allah, meeka menjadi sia-sia.
Allah berfirman :
•
Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". ( QS. Thohaa : 124-126 )
Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah bila ada di antara kita yang membalas nikmat Allah ini dengan keingkaran dan tidak mensyukuri kebaikan Allah .
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, ( QS. Ibrahim : 28 )
V. Ancaman bagi yang Lalai dari Mengingat Allah
Banyak kita dapatkan di masa ini orang-orang yang meninggalkan masjid, kitabullah, syi’ar-syi’ar Allah, lalu mengerjakan hal-hal yang di murkai Allah dan mendatangkan adzabnya.
Mereka mendzolimi diri mereka sendiri, mereka bermain-main denagn api neraka yang panasnya iada terhingga , bagaimana mereka bergegas menuju ke lembah kehancuran. Allah berfirman :
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan ( QS. Ibrahim : 28 )
Allah berfirman :
• •
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. ( QS. An-Nahl : 112 )
Mereka dapat hidup tenang dan rehat, mereka dapat makan dan minum denagn senang, tetapimereka melanggar hukum-hukum Allah dan banyak melaukan dosa, maka tuhan dan langit murka kepada mereka, lalu menghukum mereka dengan hukuman dari yang maha perkasa lagi maha kuasa.
Allah berfirman :
•
Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. ( QS. Huud : 102 )
Maha suci Allah yang maha pemaaf dan kita selamanya berbuat salah, Dia selamanya pemaaf, betapaun hamba-Nya selalu berbuat kesalahan Dia akan tetap memberi maaf.
VI. Kesimpulan dan Penutup
Dari uraian di atas maka bi di ambil kesimpulan, bahwa Allah tidak akan melupakan hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya di kala suka, kita lihat kembali kisah kekasih Allah ibrahim u, Nabi Musa, Nabi Yunus, dan Nabi Yusuf yang senantiasa mengingat Allah di kala susah, dalam artian ketika Allah memberikan kelebihan harta kepada kita hendaknya kita bersyukur dan mewujudkan rasa syukur kita dengan banyak beribadah, bershodaqoh dan amal-amal shalih lainnya,
Semoga yang sedikit ini bermanfaat,hanya Allah yang lebih mengetahui. Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad beserta keluarga, dan sahabat-sahabatnya, dan yang senantiasa meniti jalan beliau hingga hari akhir kelak. Wallahu ‘alam bish-shawab.
Referensi
1. Al-Qur’an Al-Karim
2. Tafsir al-Qur’an Al-‘Adzim, Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah.
3. Sunan Tirmidzi, Imam Tirmidzi. Maktabah syamilah.
4. Hadits Arba’in, Imam An-Nawawi, Hidayatul Insan
5. Telaah hadits Arbain An-Nawawiyah, Lilik Rahmat Nur Kholisho. Pustaka Ziyad, cetakan ketiga,
6. Cambuk Hati, Dr. Aidh Al-Qorni, Irsyad Baitussalam.
Senin, 24 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar